Sejarah Kota Balikpapan

Awalnya Balikpapan adalah tempat persinggahan pedagang-pedagang dari Banjar (Banjarmasin) yang akan menuju ke Kalimantan bagian timur. Pedagang asal Banjar tersebut membawa dagangan seperti beras, kain, garam, dan lainnya. Saat singgah, mereka menemukan sesuatu di sepanjang pesisir pantai Balikpapan. Ada banyak cairan hitam kecoklatan yang mengalir dari tanah di pesisir pantai Balikpapan. Cairan hitam yang mudah terbakar itu diambil oleh para pedagang untuk dijual/sebagai bahan bakar. Lama kelaman mereka tidak hanya singgah di Balikpapan, tetapi akhirnya menetap dan membuat sebuah kampung. Kampung tersebut dinamakan ‘Kampung Baru’. Letaknya di dekat Pulau Tukung.

pulau tukung balikpapan

Pulau Tukung Balikpapan

Dinamakan Kampung Baru karena di kampung ini mereka menetap dan memulai hidup baru. Penduduk pertama Kampung Baru ini kebanyakan adalah pedagang-pedagang dari Banjar dan Sulawesi. Penduduk pertama Kampung Baru ini kebanyakan adalah pedagang dari Banjar dan Sulawesi. Keberadaan lantung/cairan minyak di pesisir pantai Balikpapan kemudian diketahui oleh Belanda.
Continue reading

Advertisements

Asal-usul Nama Kota Balikpapan

Nama Balikpapan kurang jelas kapan berasal dan apa makna nama itu. Menilik susunan katanya dapat dimasukkan ke dalam asal kata bahasa Melayu. Menurut buku karya F. Valenijn pada tahun 1724, menyebut suatu daerah di hulu sebuah sungai di sebuah Teluk sekitar tiga mil dari pantai, desa itu bernama BILIPAPAN. Lepas dari persoalan ucapan maupun pendengaran, jelas bahwa nama tersebut dikaitkan dengan sebuah komunitas pedesaan di teluk yang sekarang dikenal dengan nama Teluk Balikpapan.

Terdapat beberapa versi terkait dengan asal-usul nama Balikpapan :

1. Versi Pertama ( Sumber : Buku 90 Tahun Kota Balikpapan yang mengutip buku karya F. Valenijn tahun 1724 )
Menurut legenda asal nama Balikpapan adalah karena sebuah kejadian yang terjadi pada tahun 1739, sewaktu dibawah Pemerintahan Sultan Muhammad Idris dari Kerajaan Kutai, yang memerintahkan kepada pemukim-pemukim di sepanjang Teluk Balikpapan untuk menyumbang bahan bangunan guna pembangunan istana baru di Kutai lama. Sumbangan tersebut ditentukan berupa penyerahan sebanyak 1000 lembar papan yang diikat menjadi sebuah rakit yang dibawa ke Kutai Lama melalui sepanjang pantai. Setibanya di Kutai lama, ternyata ada 10 keping papan yang kurang (terlepas selama dalam perjalanan) dan hasil dari pencarian menemukan bahwa 10 keping papan tersebut terhanyut dan timbul disuatu tempat yang sekarang bernama “Jenebora”. Dari peristiwa inilah nama Balikpapan itu diberikan (dalam istilah bahasa Kutai “Baliklah – papan itu” atau papan yang kembali yang tidak mau ikut disumbangkan).

2. Versi Kedua ( Sumber : Legenda rakyat yang dimuat dalam buku 90 Tahun Kota Balikpapan )
Menurut legenda dari orang-orang suku Pasir Balik atau lazim disebut Suku Pasir Kuleng, maka secara turun menurun telah dihikayatkan tentang asal mula nama “Negeri Balikpapan”. Orang-orang suku Pasir Balik yang bermukim di sepanjang pantai teluk Balikpapan adalah berasal dari keturunan kakek dan nenek yang bernama ” KAYUN KULENG dan PAPAN AYUN “. Oleh keturunannya kampung nelayan yang terletak di Teluk Balikpapan itu diberi nama “KULENG – PAPAN” atau artinya “BALIK – PAPAN” (Dalam bahasa Pasir, Kuleng artinya Balik dan Papan artinya Papan) dan diperkirakan nama negeri Balikpapan itu adalah sekitar tahun 1527.

 

Sumber : Situs resmi Kota Balikpapan

Latihan menembak

Hari ini, sore tepatnya, Bapak tiba-tiba mengambil senjata dari dalam kamar. Bukan senjata api sih, tapi lebih tepatnya senapan angin, hehehee :P. Saya kira ada apa, tapi sudah diduga sih pasti ada tupai, biawak, atau ular kalau sudah senapan itu dikeluarkan dari sarangnya *emang burung.

Saya pun ikut riweuh ngeliatin Bapak mengambil senapan itu, tanpa banyak bertanya, saya ikuti saja ke teras rumah, dan ternyata ada seekor tupai di pohon jambu depan rumah. Tupainya berisik sekali. Kata Bapak, tupainya habis di cakar Ipul, salah satu kucing saya di rumah, Ipul bertemu tupai itu dan mengejarnya saat dia sedang asyik di pagar depan rumah, sempat diterkam dan tupai itu berhasil meloloskan diri.

Bapak pun mengkokang dan memasukkan peluru dan mengarahkan ke tupai tersebut. Tapi tidak jadi, Bapak malah memberikan senapan angin itu kepada saya. Wah, dag dig dug sih, takut salah tembak. Dan terlepaslah peluru itu dari senapan dan sama sekali tidak mengenai sang tupai. Tupai itu kembali loncat ke sana- ke sini *lincah banget yah, dan hinggap di pohon kelapa. Saya dengan belagu kembali mengkokang dan memasukkan peluru ke senapan angin tersebut, *yang ini dengan instruksi Bapak tentunya, hahhahaaaa, dan lepas lagi. Ya sudah, emang belum ajalnya itu tupai *kan jodoh, rejeki, dan maut itu di tangan Allah hahhahaaa nyambung aja, 

Karena tak dapat tupainya, ya sudah, saya dan Bapak jadi foto-foto deh *like son like father, sama-sama narsis.
Continue reading