m-learning vs. e-learning

Bila membandingkan antara mobile device dan desktop PC (media yang biasa digunakan untuk menyampaikan e-learning), ada banyak hal yang ditemukan berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut meliputi fitur, fungsi, dan bahkan kenyamanan pada setiap device. Beberapa perbedaan tersebut antara lain keluaran (yaitu ukuran dan kemampuan resolusi layar, dan lain-lain); masukan (yaitu keyboard, touch-screen, input suara); kemampuan pemrosesan dan memori; aplikasi yang didukung dan jenis media. Ketika dicoba untuk memindahkan layanan yang disediakan oleh platform e-learning ke dalam layanan di platform mobile learning dapat terlihat bahwa beberapa hal harus berubah untuk memenuhi keterbatasan perangkat kecil, dan beberapa tidak dapat disimpan dalam batasan konteks tertentu, tetapi di sisi lain layanan baru juga dapat dimunculkan, yang dipicu oleh mobilitas dari perangkat mobile. Mobile learning memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan sistem e-learning:

  • Portabilitas: perangkat mobile lebih mudah dibawa dan lebih mudah dipakai untuk membuat catatan atau memasukkan data di mana pun.
  • Mendukung pembelajar: generasi yang ada saat ini lebih menyukai perangkat mobile seperti PDA, telepon seluler, dan perangkat handheld games.
  • Meningkatkan motivasi: kepemilikan terhadap perangkat mobile cenderung meningkatkan komitmen untuk memakai dan mempelajarinya.
  • Jangkauan lebih luas: perangkat mobile cenderung lebih murah sehingga dapat terjangkau oleh masyarakat secara lebih luas.
  • Pembelajaran tepat waktu: meningkatkan performance kerja atau pembelajaran sesuai dengan kebutuhan pembelajar.

Dari sisi konektivitas, berbeda dengan e-learning, yang dianggap memiliki koneksi yang selalu terhubung, mobile learning dapat disampaikan melalui tiga cara, yang secara skematik dapat disebut koneksi murni, mobilitas murni, dan gabungan dari keduanya. Koneksi murni adalah ketika perangkat mobile dapat selalu terhubung ke internet. Saat ini ada cukup banyak cara teknologi untuk perangkat mobile dapat terhubung ke jaringan internet, yaitu melalui WAP, GPRS, UMTS, Bluetooth, dan lain-lain. Sementara itu, mobilitas murni adalah ketika tidak ada koneksi tersedia sehingga semua data yang dibutuhkan aplikasi harus diunggah terlebih dahulu di dalam perangkat dan digunakan secara offline. Dalam kasus telepon seluler saat ini, yang cenderung masih memiliki memori terbatas, hal ini sulit. Namun, situasi berubah dengan cepat dan ponsel generasi baru memiliki kemampuan pemrosesan, memori, dan embedded software yang lebih besar. Perbedaan yang paling besar antara e-learning dan m-learning adalah dalam hal karakterisktik hardware/software perangkat. Hampir semua halaman web yang ada saat ini didesain untuk ditampilkan pada komputer desktop dengan monitor warna yang memiliki minimal resolusi 800×600 piksel. Perangkat mobile yang umumnya memiliki resolusi yang tidak lebih dari setengah resolusi tersebut, membuat tampilan langsung dari halaman-halaman web tersebut pada perangkat kecil tidak nyaman untuk dilihat secara estetika, sulit untuk navigasi, dan dalam kasus yang terburuk, sama sekali tidak dapat digunakan. Bergantung pada perangkat yang digunakan, format penyampaian dan transformasi yang diperlukan dapat berbeda-beda pula. Karena faktor mobilitas dari perangkat yang digunakan dalam skenario mobile learning, dapat dilibatkan data konteks baru untuk dipertimbangkan, yaitu lokasi. Layanan yang melibatkan location-awareness misalnya siswa atau guru menerima arahan bagaimana mencapai ruang tertentu atau pengingat untuk seminar atau kuliah yang dapat dipicu ketika mempertimbangkan posisi saat ini dan waktu yang diperlukan untuk mencapai aula yang diperlukan, dan lain-lain.

 

Lihat juga:

Pengertian Mobile Learning

Karakteristik dan Klasifikasi Mobile Learning

Konten Mobile Learning

Advertisements

Konten Mobile Learning

Konten pembelajaran dalam mobile learning memiliki jenis bermacam-macam. Konten sangat terkait dengan kemampuan device untuk menampilkan atau menjalankannya. Keragaman jenis konten ini mengharuskan pengembang untuk membuat konten-konten yang tepat dan sesuai dengan karakteristik device maupun pengguna.

a.    Teks
Kebanyakan device saat ini telah mendukung penggunaan teks. Hampir semua telepon seluler yang beredar saat ini telah mendukung penggunaan SMS (Short Message Service). Kebutuhan memori yang relatif kecil memuat konten berbasis teks lebih mudah diimplementasikan. Namun, keterbatasan jumlah karakter yang dapat ditampilkan harus menjadi pertimbangan dalam menampilkan konten pembelajaran sehingga perlu strategi khusus agar konten pembelajaran dapat disampaikan secara tepat dan efektif meskipun dengan keterbatasan ini. Salah satu contoh aplikasi pembelajaran berbasis teks/SMS adalah  StudyTXT yang dikembangkan di salah satu Universitas di  Selandia baru.
b.    Gambar
Perangkat bergerak yang ada sekarang telah banyak mendukung pemakaian gambar. Kualitas gambar yang dapat ditampilkan dapat beragam dari tipe monokrom sampai gambar berwarna berkualitas tinggi tergantung kemampuan device. File gambar yang didukung oleh device umumnya bertipe PNG, GIF, JPG. Penggunaan gambar sebagai konten pembelajaran biasanya digabungkan dengan  konten lain, misalnya teks.
c.    Audio
Banyak perangkat bergerak saat ini telah mendukung penggunaan audio. Beberapa tipe file yang biasanya digunakan di lingkungan mobile device antara lain RM, MP3, AMR dan lain-lain. Oleh karena file audio biasanya memiliki ukuran yang cukup besar, menyebabkan file audio tersebut harus diolah terlebih dahulu sehingga dapat digunakan di lingkungan mobile device  yang memiliki kapasitas memori yang relatif kecil.
d.    Video
Meski dalam kualitas dan ukuran yang terbatas, beberapa tipe mobile device telah mampu memainkan  file video. Format file yang didukung oleh mobile device antara lain adalah 3GP, MPEG, MP4, dan lain-lain. Sama seperti file audio, kebanyakan file video memiliki ukuran yang cukup besar sehingga harus dikonversi dan disesuaikan dengan keterbatasan device.
e.    Aplikasi Perangkat Lunak
Konten yang cukup menarik adalah aplikasi perangkat lunak yang dipasang pada device. Perangkat lunak dapat dikostumisasi sesuai kebutuhan sehingga akan lebih mudah dan intuitif untuk digunakan. Aplikasi perangkat lunak ini juga mampu menggabungkan konten-konten lain seperti teks, audio dan video sehingga menjadi lebih interaktif. Jenis aplikasi yang saat ini banyak digunakan antara lain aplikasi berbasis WAP/WML, aplikasi Java, aplikasi Symbian, dan lain-lain.

Mobile learning akan cukup tepat jika diterapkan di lingkungan dimana computer aided learning tidak tersedia. Hal ini dikarenakan pengguna yang telah terbiasa dengan penggunaan komputer sebagai media belajarnya lebih suka tetap memakai komputer, sedangkan mereka yang tidak familiar dengan komputer merasa penggunaan mobile device lebih atraktif dan lebih dapat diterima. Sistem yang optimal adalah menggabungkan  mobile learning dengan  e-learning, ini merupakan alternatif proses pembelajaran dilakukan dengan perangkat komputer dan atau mobile device atau digabungkan dengan sistem tradisional. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pengembangan mobile learning adalah bahwa tidak semua konten pembelajaran konvensional maupun konten pembelajaran e-learning akan dapat ditransformasikan ke dalam konten mobile learning.

 

Lihat juga:

Pengertian Mobile Learning

Karakteristik dan Klasifikasi Mobile Learning

m-learning vs. e-learning

Karakteristik dan Klasifikasi Mobile Learning

Karakteristik dan perangkat yang diperlukan oleh mobile learning antara lain adalah (Soekartawi, 2003):

  • Memanfaatkan jasa teknologi elektronik; antara pendidik dan peserta didik, antar peserta didik sendiri, atau antar pendidik-pendidik, dapat berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler;
  • Memanfaatkan keunggulan komputer (media digital dan computer network);
  • Menggunakan bahan ajar yang bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di ponsel atau komputer sehingga dapat diakses oleh pendidik dan peserta didik kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya; dan
  • Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan yang dapat dilihat setiap saat di ponsel atau komputer.

Mobile learning dapat dikelompokkan dalam beberapa klasifikasi berdasarkan  indikator-indikator sebagai berikut (Georgiev, 2005):

  • Jenis  mobile device yang  didukung: notebook,  Tablet  PC, PDA, smartphone, atau telepon seluler.
  • Jenis  komunikasi  nirkabel  yang  digunakan  untuk  mengakses  bahan pembelajaran dan informasi administratif: GPRS, GSM, IEEE 802.11, Bluetooth, IrDA.
  • Dukungan edukasi secara sinkron dan/atau asinkron, apakah pengguna dapat  berkomunikasi  secara  sinkron  (chat,  komunikasi  suara)  atau asinkron (e-mail, SMS) dengan pengajar.
  • Dukungan terhadap standar e-learning.
  • Ketersediaan  terhadap  koneksi  internet  yang  permanen  antara  sistem mobile learning dengan pengguna.
  • Lokasi pengguna.
  • Akses ke materi pembelajaran dan/atau layanan administratif

 

Lihat juga:

Pengertian Mobile Learning

Konten Mobile Learning

m-learning vs. e-learning

 

Pengertian Mobile Learning

Mobile learning didefinisikan oleh Clark Quinn (2000) sebagai:

The intersection of mobile computing and e-learning: accessible resources wherever you are, strong search capabilities, rich interaction, powerful support for effective learning, and performance-based assessment. E-Learning independent of location in time or space.

Merujuk dari definisi tersebut maka, mobile learning adalah model pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Pada konsep pembelajaran tersebut mobile learning membawa manfaat ketersediaan materi ajar yang dapat diakses setiap saat dan visualisasi materi yang menarik. Hal penting yang perlu diperhatikan bahwa tidak setiap materi pengajaran cocok memanfaatkan mobile learning.
Stevanus Wisnu Wijaya (2006) menjelaskan bahwa materi ajar yang tidak cocok mengadopsi konsep mobile learning antara lain: materi yang bersifat hands on, keterampilan sebagaimana dokter gigi, seni musik khususnya mencipta lagu, interview skills, team work seperti marketing maupun materi yang membutuhkan pengungkapan ekspresi seperti tarian. Mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas maka penerapan mobile learning lebih baik pada jenjang pendidikan tinggi.

Mobile  learning atau m-learning sering  didefinisikan  sebagai e-learning melalui perangkat komputasi mobile (Andy, 2007: 6). Ally (2004) mendefinisikan mobile learning merupakan penyampaian bahan pembelajaran elektronik pada alat komputasi mobile agar dapat diakses darimana saja dan kapan saja. Pada umumnya, perangkat mobile berupa telepon seluler digital dan PDA. Namun, secara lebih umum dapat didefinisikan sebagai perangkat apapun yang berukuran cukup kecil, dapat bekerja sendiri, dapat dibawa setiap waktu dalam kehidupan sehari-hari, dan yang dapat digunakan untuk beberapa bentuk pembelajaran. Perangkat kecil ini dapat dilihat sebagai alat untuk mengakses konten, baik disimpan secara local pada device maupun dapat dijangkau melalui interkoneksi. Perangkat ini juga dapat menjadi alat untuk berinteraksi dengan orang lain, baik melalui suara, maupun saling bertukar pesan tertulis, gambar diam dan gambar bergerak.

Referensi:
Quinn, C. (2000). Mlearning, Mobile Wireless in Your Pocket Learning. [Online]. Tersedia: http://www.linezine.com/2.1/feature/cqmmwiyp.htm
Wijaya, Stevanus Wisnu. Mobile Learning Sebagai Model Pembelajaran Alternatif Bagi Pemulihan Pendidikan Di Daerah Bencana Alam Gempa Bumi Yogyakarta. Universitas Sanata Dharma.
Ally, Mohamed. (2009). Mobile Learning Transforming the Delivery of Education and Training. Atabasca University: AU Press.

 

Lihat juga:

Karakteristik dan Klasifikasi Mobile Learning

Konten Mobile Learning

m-learning vs. e-learning

Rancangan Silabus Praktikum PTI

PTI adalah Pengantar Teknologi Informasi. Di kampus saya (Universitas Pendidikan Indonesia), secara turun-temurun PTI ini sebagai perkenalan dengan dunia ilmu komputer. Dalam kurikulum PTI, terbagi menjadi 2, pembelajaran di kelas (teori) dan praktikum. Anehnya sih praktikumnya ini kenyataannya tidak sinkron dengan yang diajarkan di kelas, soalnya yg diajarkan di kelas kebanyakan ya memang cuman dasar atau pengenalan saja. Di praktikum saya mengenal hal-hal baru. Jadi saya beranggapan bagaimana kalau dalam praktikum PTI ini benar-benar mengenalkan keseluruhan apa yang akan dipelajari di ilmu komputer (ilkom).

Bagaimana membuat sebuah praktikum PTI yang benar-benar bisa optimal?Berikut saya mencoba untuk membuat rancangan silabus untuk mata kuliah PTI.

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Aplikasi perkantoran
  • menguasai aplikasi pengolah kata
  • menguasai aplikasi pengolah angka
  • menguasai aplikasi presentasi
  • menguasai aplikasi basis data
Pemrograman
  • mengenal algoritma
  • mengenal tipe data, variabel, konstanta
  • mengenal algoritma runtutan (sequence), pemilihan (conditional), pengulangan (looping)
Jaringan
  • membuat kabel tipe cross & straight
  • menghubungkan dua buah komputer
Sistem Operasi
  • mengenal SO dan jenisnya
  • mahir menginstalasi SO
  • mahir mengoperasikan SO
Web
  • mengenal tag HTML
  • mengenal CSS
  • membuat web statis
Multimedia
  • mengenal pengolah grafik
  • mengenal pengolah vektor
  • membuat animasi sederhana

*)masih dalam tahap perancangan

Analisis Kurikulum SMK Daarut Tauhid Boarding School Bandung

Kajian Dokumen (kerangka kurikulum)

Berdasarkan hasil kajian terhadap dokumen dan pelaksanaan serta analisisnya, ditemukan hal-hal sebagai berikut.

Kelompok Mata Pelajaran dan Struktur Kurikulum

a. Kelompok Mata Pelajaran

Uraian tentang kelompok mata pelajaran yang berisi deskripsi kelompok mata pelajaran spesifik SMK, merujuk kepada Permen 22 tahun 2006, meliputi tiga kelompok mata pelajaran, yaitu kelompok normatif, kelompok adaptif, dan kelompok produktif.

Kelompok normatif adalah kelompok mata pelajaran yang dialokasikan secara tetap yang meliputi Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, dan Seni Budaya.

Kelompok adaptif terdiri atas mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS, Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi, dan Kewirausahaan.

Kelompok produktif terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang dikelompok-kan dalam Dasar Kompetensi Keahlian dan Kompetensi Keahlian.

Sekolah Menengah Kejuruan mempunyai kekhususan. Kekhususan tersebut terletak pada mata pelajaran produktif. Seperti halnya mata pelajaran lain, standar isi (SI) dan standar kompetensi lulusan (SKL) mata pelajaran produktif juga perlu dikaji.

b. Struktur Kurikulum

Struktur Kurikulum berisi uraian tentang jumlah jam pelajaran setiap mata pelajaran, minimal sesuai dengan standar isi untuk semua jenis program/jurusan pada sekolah untuk setiap semester yang berlaku pada tahun pelajaran itu. Standar isi merujuk kepada Permen 22 tahun 2006, merujuk kepada Kajian Kebijakan Kurikulum SMK – 2007 7 panduan penyusunan kurikulum KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah yang disusun oleh BSNP.

Struktur Kurikulum yang dituangkan dalam bentuk matrik, memuat tentang nomor, kode kompetensi, kelompok mata pelajaran/kompetensi, tahun/tingkat dan semester serta jumlah jam.

Continue reading

Makalah Pembiayaan Pendidikan (SD Negeri 023 Kariangau)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Meski hukum internasional mengharuskan agar pendidikan dasar itu gratis, pendidikan tidak bisa bebas biaya baik dalam teori maupun dalam praktek. Bagi pemerintah pembiayaan pendidikan merupakan anggaran utama dalam budjetnya. Orang tua membiayai anak-anak mereka melalui berbagai pajak yang mereka harus bayar, dan secara rutin membayar biaya buku-buku, transportasi dan makan siang, baju seragam, alat-alat tulis, atau peralatan olahraga. Pemerintah haruslah menghilangkan hambatan finansial bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan dasar agar dapat membuat semua anak – tak perduli seberapa miskinpun- untuk memenuhi pendidikan dasarnya.

Untuk menjamin bahwa setiap anak dapat memperoleh pendidikan dasar yang gratis dibutuhkan konstitusi atau undang-undang di setiap negara yang secara eksplisit menjelaskan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dasar secara gratis. Dengan adanya konsitusi tersebut maka diharapkan setiap negara berusaha memenuhi kewajibannya kepada setiap warganya yang memiliki hak atas pendidikan gratis yang bermutu tersebut.

Apakah semua negara telah memiliki konstitusi yang menjamin bahwa setiap anak berhak untuk mendapatkan Pendidikan Dasar yang gratis dan bermutu? Meski semua negara telah sepakat bahwa pendidikan dasar yang bermutu dan gratis adalah hak bagi setiap anak ternyata belum semua negara menyatakannya dalam konstitusinya. Ada juga negara yang sudah memberikan hak tersebut kepada warganegaranya tapi belum memiliki konstitusi yang menjamin hal tersebut.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah bagaimana pembiayaan pendidikan di daerah.

1.3 BATASAN MASALAH

Masalah yang dibahas adalah pembiayaan pendidikan di Balikpapan, Kalimantan Timur, khususnya di SD Negeri 023 Kelurahan Kariangau.

1.4 TUJUAN

Tujuan dari pembuatan makalah adalah untuk mengetahui pembiayaan pendidikan di daerah, khususnya di SD Negeri 023 Kariangau.

1.5 METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah observasi dan studi pustaka.

Continue reading